• Mon. - Fri. 8am - 5pm
  • +62 (0380) 823092
  • bprtlmkupang@gmail.com


Bank TLM Gelar Serah Terima Jabatan Direktur Kredit dan Penandatanganan Pakta Integritas 20 Pegawai Baru, Robert Fanggidae: M-Banking Hadir Tahun Ini

Jabatan Direktur Kredit Bank Perekonomian Rakyat Tanaoba Lais Manekat (BPR TLM) yang sebelumnya dijabat oleh Yeremia M Nappoe, diserahterimakan kepada Pejabat Baru Direktur Kredit BPR TLM, Johan P Makatita. Selanjutnya, Yeremia M Nappoe menduduki Jabatan baru sebagai Komisaris BPR TLM. Sementara Jabatan Kepala Bagian Marketing BPR TLM yang sebelumnya dijabat oleh Johan P Makatita, diserahterimakan kepada Mathelda Debby Rondo, yang dipromosikan dari jabatan sebelumnya sebagai Kepala Seksi Marketing. Promosi jabatan dilingkup manajemen Bank TLM dilakukan berdasarkan proses seleksi yang ketat.
Dalam momen yang sama, 20 karyawan baru Bank TLM juga menandatangani Pakta Integritas sebagai komitmen menjaga profesionalitas kerja. Janji yang di ucapkan didukung oleh pernyataan dan jaminan orangtua/wali para karyawan baru.
Acara ini dilaksanakan pada tanggal 18 April 2026, bertempat di Aula Lantai II Kantor Pusat Bank TLM. Acara Serah Terima Jabatan dan Pakta Integritas Karyawan ini diawali dengan Ibadat Syukur yang dipimpin Pdt Sepy M A Hawu, S.Th, dan dihadiri Dirut Bank TLM Robert P Fanggidae bersama Jajaran Direksi dan Manajemen serta Perwakilan Pemegang Saham. Dalam Khotbah Pdt. Sepy M A Hawu mengibaratkan karyawan Bank TLM seperti garam. “Garam itu warnanya putih dan melambangkan kejujuran, juga mengawetkan dan mencegah kebusukkan, serta memberi cita rasa yang baik dalam pelayanan’’.
Kalau tidak menjadi garam dan pelita lagi, konsekuensinya akan diinjak dan ditinggalkan orang. Karena itu jadilah Pemimpin dan Karyawan Bank TLM yang memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat dan nasabah.
Dalam Sambutannya Dirut Bank TLM, Robert P Fanggidae menyampaikan bahwa secara operasional Bank Perekonomian Rakyat TLM sudah berjalan selama 18 tahun 3 bulan. Ia bersyukur Bank TLM masih dalam keadaan sehat meski tantangan tahun ini dirasa lebih berat dibanding masa Covid-19.
Dari sisi aset, Bank TLM terus tumbuh, Per 31 Desember 2025 aset tercatat Rp 302 miliar, lalu naik Rp 16 miliar menjadi Rp 318 miliar pada Maret 2026. Laba hampir mencapai Rp 1,2 miliar, kredit bermasalah (NPL) di angka 2,7%, dan jumlah nasabah bertambah menjadi 20.382 orang dengan total rekening lebih dari 25 ribu per Maret 2026. Meski begitu, ia menegaskan mengelola bank harus menjaga keseimbangan antara uang masuk dan uang keluar.
Robert P Fanggidae, juga menyebut sejak 1958 hingga kini, belanja pemerintah masih jadi pendorong utama ekonomi NTT. Karena itu Bank TLM sudah melakukan evaluasi dan langkah strategis menghadapi kondisi ekonomi saat ini, termasuk antisipasi dampak perubahan iklim dan potensi kenaikan harga BBM. Langkah efisiensi dan peningkatan produktivitas yang dijalankan mulai menunjukkan hasil.
“Kita tahu bahwa pemerintah melakukan realokasi (bukan efisiensi) yaitu menarik anggaran dari daerah kemudian dikembalikan dalam bentuk proyek stategis nasional, yakni MBG, Pembangunan 3 juta rumah, dan Koperasi Desa Merah Putih. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi itu, dan kita harus memahami ekosistem,” kata Robert P Fanggidae.
Karena itu, kata Robert P Fanggidae, Gereja harus mengambil bagian. Ini peluang yang harus ditangkap. Gereja punya 50 Klasis, tanahnya luas, harusnya bisa bekerja sama dengan pemerintah. Karena orang miskin di NTT masih 17 persen lebih, artinya 1 juta lebih jumlah orang miskin di NTT saat ini.
“Bagaimana angka kemiskinan bisa turun, tentu karena dana Pemerintah Pusat sampai ke petani dan juga nelayan. Angka kemiskinan itu turun karena disumbangkan oleh tiga sektor, dan dari tiga sektor itu paling banyak warga GMIT. Sektor pertanian memang masih menjadi penyumbang terbesar yakni 29 persen PDRB, tapi 29 persen itu disumbangkan oleh orang yang banyak juga jumlahnya. Sehingga kalau dibagi pendapatan perkapita, warga miskinnya makin banyak. Secara angka memang turun, tetapi 17 persen dari jumlah penduduk 2 juta dulu, dan 17 persen dari jumlah penduduk 5,6 juta sekarang, tentu berbeda. Dan ini juga peluang dari sisi kredit,” katanya.
Robert P Fanggidae juga menyinggung soal peluang yang seharusnya ditangkap gereja terkait program MBG. Menurutnya, terlepas dari kelemahan pelaksanaan MBG di lapangan, hal ini baru pertama kali terjadi sejak era Presiden Soekarno, yaitu _pemerintah memastikan siapa pembelinya_. “Kalau dulu dalam kegiatan pembangunan nasional, pertanian dan sebagainya, pembelinya tidak pasti. Petani berusaha saja dan berharap nanti ada pembelinya. Kalau sekarang pembelinya pasti, dan ini bagian tersulit dalam berbisnis,” jelas Robert.
Dari sisi operasional, Robert P Fanggidae menjelaskan Bank TLM sedang memanfaatkan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) untuk berproses ke arah digitalisasi. Menurutnya, jika tidak dilakukan, Bank TLM akan terkena risiko strategis.
Ada tiga risiko strategis yang dimaksud. Pertama, risiko tidak mencapai target laba, Kedua perubahan lingkungan akibat kemajuan teknologi dan yang ketiga yaitu perubahan perilaku masyarakat yang kini hampir tidak membaca koran, jarang menonton TV, dan semua transaksi sudah beralih ke digital.
Karena itu, Bank TLM sedang berproses melakukan digitalisasi, baik dari sisi pekerjaan maupun transaksi. Untuk transaksi digital, kerja sama sudah ditandatangani. Targetnya, Agustus 2026 Bank TLM sudah memiliki M-Banking sendiri untuk meningkatkan kualitas pelayanan ke nasabah.
Tapi tentang hal ini, kata Robert P Fanggidae, masih berproses dan programnya sedang dibuat. Setelah itu, nanti dilanjutkan dengan audit teknologi dan lainnya hingga mengurus ijin ke OJK dan BI serta proses lainnya. “Tetapi kita sudah ada di jalan yang benar. Dan di NTT, Bank TLM jadi yang pertama untuk masuk ke M-Banking. Target kita, kalau bukan Agustus, maka selambat-lambatnya Desember 2026 kita sudah punya layanan M-Banking,” kata Robert P Fanggidae.
Kepada 20 karyawan baru yang mengucapkan janji dan menandatangani Pakta Integritas, Dirut Bank TLM Robert P Fanggidae berpesan agar menjaga karakter dan konsistensi. Ia menekankan bahwa selama 18 tahun Bank TLM sudah menjaga identitasnya, sehingga pegawai juga harus berlaku sesuai antara ucapan dan tindakan, tidak mudah terpengaruh lingkungan yang tidak baik, bekerja profesional, dan memberi pelayanan terbaik kepada nasabah serta masyarakat.
Perwakilan Pemegang Saham Bank TLM, Rozali, juga menyampaikan pesan kepada pegawai dan manajemen. Ia menegaskan kembali tujuan berdirinya Bank TLM, yaitu melayani masyarakat dan jemaat, bukan sekadar mencari keuntungan bisnis.



Foto Kegiatan

  • Galeri
  • Galeri
  • Galeri